Empat Langkah Sukses Induced Lactation

Pada kasus saya, program Induced Lactation baru dimulai di usia bayi satu minggu. Jika Anda berencana mengadopsi anak bahkan sebelum kelahirannya, bagusnya memulai program Induced Lactation sedini mungkin. Untuk memproduksi ASI bisa dilakukan dengan beberapa macam cara, sering disebut dengan protokol, yang lebih lengkap bisa Anda baca disini atau disini. Berikut saya share juga beberapa tips yang bisa membantu mempercepat keberhasilan program Induced Lactation Anda ;

TIPS #1 : Lakukan Program Secepat Mungkin

Berkaca dari pengalaman saya, jika Anda bisa memulainya sebelum bayi lahir, maka gunakanlah protokol Newman Goldfarb. Protokol ini pada prinsipnya, menggunakan obat KB dalam jangka waktu tertentu untuk memanipulasi tubuh, sehingga tubuh berpikir sedang hamil dan mulai memproduksi hormon oksitosin. Tapi jika Anda memulainya di usia bayi kurang dari 6 bulan, cobalah menggunakan protokol tradisional yaitu memberikan minum bayi dengan menyedot langsung dari payudara menggunakan lactation aid.

Bagaimana dengan obat herbal atau booster ASI? Saya sempat menggunakan booster ASI madu, karena memang dari dulu rutin minum madu setiap hari. Sempat mencoba booster ASI tea, tapi ogah nerusin karena ga kuat sama bau dan cara membuatnya yang ga praktis. Pepaya muda, sayuran hijau-hijau, yohurt, oatmeal juga saya konsumsi walau on off lebih karena memang saya suka makannya, syukur-syukur bisa menambah produksi ASI saya. Nah, Anda bisa rajin mencoba berbagai makanan yang cocok dengan tubuh Anda dalam meningkatkan produksi ASI.

TIPS #2: Temui Konsultan Laktasi

Selama program, total sebanyak tiga konsultan yang telah saya temui (semua domisili Bandung). Konsultan pertama bertempat di dekat Maranatha, disini saya diajarkan cara laktasi, melakukan induced lactation menggunakan selang feeding tube, dan pijat payudara. Setelah beberapa minggu melakukannya, saya kemudian ke konsultan kedua, seorang dokter anak di Limijati, yang juga memberikan pengetahuan tentang pijat oksitosin, dan membenarkan kembali proses laktasi menggunakan selang feeding tube. Di kedua dokter ini saya diberikan obat dan feeding tube, bedanya yang di Limijati meresepkan selang dan obat yang lebih mahal (mungkin karena lebih paten).

Kesulitan yang saya rasakan adalah ribetnya menggunakan selang feeding tube, karena harus dibantu orang lain dan bayi pun sering nolak, ternyata saya tahu kemudian, karena selang jadi keras setelah beberapa kali pakai (bahkan feeding tube mahalpun sama aja). Akhirnya saya berinisiatif membeli pompa ASI Medela Mini Elektrik, ceritanya mau menggantikan sedotan bayi untuk merangsang payudara memproduksi ASI. Repotnya pakai Minel ini, harus gonta ganti karena ga double pump dan motornya juga berisik jadi harus mompa di kamar lain. Beberapa minggu kemudian, saya membaca pengalaman ibu lain, ternyata pompa hospital grade yang double pump lebih mumpuni sedotannya dan bagus dipakai lebih dari 8x per hari. Pagi, siang, sore, malam sambil teler berusaha 15 menit (di kedua payudara) menggunakan pompa tapi hasil masih nihil.

Sempat mogok melanjutkan program, akhirnya saya mencari konsultan laktasi lain. Setelah mencari rekomendasi dari forum internet, datanglah saya ke dokter Frecilia di Limijati. Ternyata dokternya masih muda, seru diajak ngobrol, tapi tegas. Pertama saya konsultasi saja, sudah dibuat berkaca-kaca mata ini, bukan karena galak tapi dokter Frecil membukakan pikiran saya bahwa there is no such a short cut.

Ketika saya cerita apa saja yang sudah saya lakukan, dokter Frecil nanya “Seberapa kuat keinginan kamu?”. “Kuaaat banget dook”, kata saya sambil kipas-kipas mata. “Kalau gitu jangan nawar-nawar lagi, satu-satunya cara ya buang botol,” katanya.

Berikutnya setiap keluar dari ruang dokter Frecilia, semangatpun berkobar lagi, karena setiap masalah bisa kami diskusikan solusinya. Malah kadang solusinya bisa saya temukan sendiri karena termotivasi untuk ngulik lagi. Sambil terus konsisten menyusui si bayi tersayang, saya konsumsi obat yang diresepkan dokter Frecil yaitu Domperidon (sebenarnya obat pereda muntah yang memberikan efek samping meningkatkan hormon oksitosin) dengan dosis 3×3 selama dua minggu, kemudian menurun setiap dua minggunya. Dokter Frecil juga sama sekali ga merekomendasikan feeding tube karena penggunaannya yang sering per hari dan dalam waktu yang lama. Metode menggunakan feeding tube umumnya hanya untuk mereka yang melakukan program buang botol atau re-laktasi.

Karena sering ga kebagian jadwal dokter Frecilia di Limijati, saya lebih suka ke tempat prakteknya di Medical Priangan Centre (ga jauh dari exit tol Pasir Koja). Selain konsultasi laktasi, vaksin dan berobat pun sebisa mungkin saya lakukan dengan dokter ini, cocok sih apalagi dengan metodenya yang ga gampang kasih obat.

TIPS #3: Beli Lactation AID

Ga banyak toko yang menjual alat ini, setelah berkelana berburu hashtag lactation aid (#lactationaid) di Instagram, akhirnya saya menemukan toko asibayi.com dan memesan disana seharga 650 ribu. Saya juga sekalian beli cup feeder sebagai perangkat program buang botol.

Lactation Aid ini dari merek Medela, dilengkapi beberapa selang dengan ukuran berbeda (tapi karena kecil, cuma bisa bedain dari warna aja). Cara pakainya sangat praktis, tetap membutuhkan penyusaian namun Anda akan menemukan mana cara terbaik menggunakannya. Jika ada yang Anda bingung, bisa ngobrol dengan saya untuk cari cara gimana ngakalinnya.

Alat ini saya bawa kemanapun, karena alatnya sering ketutupan kerudung jadi kaya breastfeeding yang dilakukan ibu dan anak pada umumnya. Nah, kalo dalam perjalanan, posisi wuenak bagi saya adalah menyusui di mobil dengan posisi menggantungkan tali lactation aid di gantungan tangan kursi belakang, kaya punya infus sendiri dalam mobil.

TIPS #4: Kuatkan Komitmen dengan Suami dan Keluarga

Serius, saya ga akan berada di titik ini jika tanpa dukungan suami dan keluarga. Program induced lactation ini butuh upaya, tenaga, waktu dan kesabaran lebih. Disini suami saya memegang peranan penting membantu saya tetap konsisten melakukannya, mengangkat semangat kembali ketika saya diujung keputusasaan. Lebih dari sekali saya berpikir untuk pasrah dan ikhlas kalau saya ga bisa memberikan ASI kepada bayi kami tersayang. But then, he always be there for me. Terima kasih sayang (^o^)

Pastikan Andapun memiliki komitmen yang sama dengan suami. Kehadirannya, dukungannya dalam menjaga Anda agar punya waktu istirahat yang cukup, nutrisi yang baik, memberikan rasa tenang dan nyaman. Kondisi ini mutlak loh dibutuhkan untuk memancing si hormon oksitosin. Oh ya, ada hal nyata lain yang bisa dilakukan oleh suami atau anggota keluarga lain, yaitu melakukan pijat oksitosin di punggung Anda seperti ini. Saya pernah diajarkan oleh konsultan kedua, tapi sayangnya hanya terlaksana sekali, nah sebisa mungkin Anda rutin menagih pijatan ini.

Dokter Frecil juga pernah cerita pengalamannya hadir dalam simposium/workshop dengan pemateri dari Thailand yang sangat ahli dalam pijit oksitosin ini. Dokter Frecil menjadi volunteer untuk maju ke depan dan dipijat oksitosin oleh sang ahli, hasilnya setelah piijatan itu ia cek ke kamar mandi dan ada tetesan ASI yang ia produksi. Wooow! Maybe THAT is the shortcut, tapi sayangnya ga mungkin kalau saya ke Thailand demi mengejar dipijat sang ahli yang dokter Frecil juga lupa namanya siapa.

Daripada kepikiran mengejar yang ga pasti di Thailand, lebih baik lakukan semua usaha diatas, sambil terus berdoa, dan selalu berpikiran positif. Tahukan kalau hormon oksitosin itu sering dibilang hormon kebahagiaan, jadi usahakan badan dan pikiran Anda nyaman. Kita bisa berusaha, tapi semua yang terjadi pastilah atas ridho Allah SWT, mintalah kekuatan, kesabaran dan kemudahan untuk bisa memberikan yang terbaik buat bayi tersayang.

Nah, sudah siap memulai perjalanan Induced Lactation Anda? Coba setel tingkat keinginan dan semangat Anda hingga maksimal, lalu mulai lakukan programnya dari sekarang juga. Kalau diperjalanan Anda mulai kendor semangatnya, katrol lagi dengan baca pengalaman ibu-ibu lainnya yang sukses mesra bareng bayinya dengan induced lactation. Seperti cerita kesukaan saya dari pengalaman Emily (IMHO, this is the best true story of successful induced lactation), atau beberapa ibu berbagi tips disini. Yes, you can do it too momma!

Advertisements

2 thoughts on “Empat Langkah Sukses Induced Lactation

  1. asibayi.com says:

    Inspiratif dan Informatif !!!
    Sudah jalan berapa bulan mba?
    Saya juga pengin mengadopsi krn lama blm ada momongan :(. Penginnya sih nyari yg masih ada hubungan kerabat atau pertemanan.

    Btw thanks sdh mampir di asibayi dan backlink-nya.

    Like

    • feby says:

      Thanks mba! masih kalah nih sama blog kamuuh
      Sudah 1 tahun sekarang, setiap harinya selalu bersyukur mengambil keputusan itu alhamdulillah.

      Jalannya dri mana aja sih mba, memang kalau dari panti asuhan prosedur lebih panjang karena melibatkan dinas sosial katanya.
      Will pray for you, semoga bisa menikmati juga the joy of motherhood. Kamu mah pasti induced lactationnya 4 minggu langsung berhasil ^_^ peralatan perang dah lengkap soalnya ehhehe.. Good luck!

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s