A Forever Learner: My MOOC experience

Berada di tengah gerombolan anak muda yang berjibaku mengejar gelar Master dan PHd, gimana engga bikin semangat belajar saya kembali terpompa. Walau mereka masih termasuk satu generasi dengan saya, The Millenial atau sering disebut Generasi Y, tapi usia mereka terpaut lumayan jauh sekitar 7 tahun.

Apalagi kelas master degree di University of Twente itu cuma satu tahun. Ah, rasanya gatal buat balik ke bangku kuliah, tapi kasian juga kalo Naj mesti dititipin ke daycare. Rasanya ga rela melewatkan setiap jam dari perkembangan dia yang lagi super bawel, aktif, dan banyak mau. Master degree can wait, but my baby won’t.

Jadilah ditengah kesibukan sebagai peri rumah, newbie blogger, dan freelance copy writer, saya memaksakan diri untuk setidaknya bisa bawa pulang ilmu baru dari sini. Apalagi kalau bukan belajar Bahasa Belanda kan?

Sebenarnya orang Belanda itu super ramah, berbeda dengan orang Jerman dan Perancis (katanya). Hidup disini tanpa bisa bahasa belanda adalah hal yang mudah, karena mereka mampu dan tanpa ragu berbicara dengan bahasa inggris walau dengan keterbatasan kosa kata. Tapi sayang banget, sehari-hari saya tenggelam dalam budaya dan percakapan orang-orang lokal tapi ga bisa belajar bahasanya.

Baiklah, “Able to speak basic conversation in Dutch” menjadi misi utama saya dalam lima bulan pertama di Belanda.

Apa itu MOOC?

Dua bulan pertama saya belajar bahasa belanda pakai aplikasi Duolingo dengan progress yang lamban. Alasannya lebih karena kurang disiplin untuk konsisten setiap hari setidaknya satu jam fokus belajar di aplikasi tersebut. Sampai kemudian saya mendapatkan link di facebook tentang MOOC “Introduction to Dutch by University Of Groningen” yang tertaut dengan www.futurelearn.com. University of Groningen adalah universitas yang popular di Belanda dan terletak di kota Groningen.

Massive Open Online Course (MOOC), adalah sistem pembelajaran berupa kursus online secara masif (besar-besaran) dan terbuka bagi siapapun.

MOOC bisa dikatakan sebagai sistem revolusioner dalam bidang pendidikan. Bayangkan, kita bisa belajar dari berbagai universitas terkemuka di dunia, sesuai bidang, waktu, dan tempat yang kita inginkan, plus GRATIS!

Sounds too good to be true? Lalu para pengajarnya dapat apa? Masuk akal kok kalau gratis, karena investasi dan biaya yang dikeluarkan oleh universitas relatif sangat rendah untuk membuat sistem belajar digital yang bisa diakses pelajar dalam jumlah tak terbatas seperti ini. Ilmunya memang gratis, tapi siswa yang lulus dikasih pilihan jika mereka mau membayar untuk sertifikat dari universitas tersebut.

Merasa penasaran, saya pun mendaftarkan diri dalam kursus yang digelar selama tiga minggu ini di Future Learner. Wah ternyata cukup mudah, dan lebih seru daripada belajar di kelas dengan cara konvensional, berkat tiga alasan ini:

  1. Kita diberikan berbagai fitur yang sangat mempermudah tahapan proses belajar, seperti tersedianya : video pengantar, bisa download buku pendukung dengan gratis, ada panduan to do list, monitoring progress percentage, dan aktivitas yang tengah kita lakukan.
  2. Dalam setiap tahapnya, kita bisa mengikuti quiz yang ditautkan dengan quizlet.com. Siapa sangka, ternyata “bermain” dengan kata-kata bisa seseru main games. Apalagi ada sistem penilaian dan ranking jadi tambah seru karena berkompetisi dengan learner lain.
  3. Learner didorong untuk aktif memberikan komentas, juga berinteraksi dengan learner lainnya dari seluruh belahan dunia. Jadi bisa saling bertanya dan semakin termotivasi untuk ikut tahapan berikutnya.

Di Future Learn sendiri masih ada berbagai kursus lainnya, bisa di cek disini.

MOOC untuk siapa?

Ada artikel menarik dari Harvard Business Review, yang ditulis praktisi sekaligus pengajar dari Coursera – salah satu website kelas online terbesar. Tulisan ini menjawab beberapa pertanyaan kritis terkait keberhasilan nyata yang didapat oleh siswa-siswa MOOC.

Berdasarkan analisa data yang dikumpulkan dari pola belajar para siswanya, juga hasil feedback dari mereka, ternyata sebanyak 72% responden melaporkan adanya peningkatan dalam segi karir, dan 61% dalam segi akademis.

Menariknya, siswa dari negara berkembanglah yang lebih banyak melaporkan adanya keuntungan yang mereka dapat selepas mengambil MOOC. Semakin rendah status sosial ekonomi, dan level pendidikan mereka, maka semakin tinggi manfaat yang mereka dapat. Ingat, MOOC ini umumnya masih dalam bahasa inggris sebagai bahasa pengantar, se-rendah-rendahnya pendidikan terakhir pun harus mahir berbahasa inggris.

Setelah membaca artikel ini, maka saya bisa rangkum; bahwa penduduk dari negara berkembang lah yang paling merasa diuntungkan oleh MOOC, yang memberikan akses bagi siswanya untuk meningkatkan kompetensi mereka melalui pendidikan berkelas dunia.

So, why not? Ini adalah salah satu hal terbaik yang memungkinkan dalam era digital saat ini. Saya pribadi merasa antusias dengan adanya beragam kelas yang disusun apik, mudah, dan dirancang secara spesifik, menjawab berbagai kebutuhan dan minat saya. Bagaimana dengan anda?

Kelas-kelas baru terus bergulir dengan tema yang sangat menarik, rasanya saya dengan senang hati menjadi siswa abadi di sekolah online dunia.

#Sederet MOOC Inceran

#Tips mengikuti kelas online

  1. Pastikan sesuai minat anda, karena mengambil kelas online butuh komitmen panjang dan bukan “efek groupon” semata.
  2. Ketahui berapa waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikannya, sesuaikan dengan kemampuan anda dalam memberikan komitmen waktu.
  3. Banyak yang gratis, ada juga yang berbayar seperti Skill Share. Untuk yang berbayar biasanya mereka memberikan trial atau harga diskon untuk beberapa bulan pertama. Manfaatkan kesempatan promo, tapi pastikan bahwa waktu promo tersebut tidak terbuang percuma, daftarlah ketika anda merasa sudah bisa mengalokasikan waktu.
  4. Disiplin, walaupun kelas bebas di akses kapan saja, baiknya anda memiliki jadwal tetap dalam mengikuti kelas sehingga mengurangi potensi bolos.
  5. Supplement dengan aktivitas lainnya. Misalnya, jika anda mengambil kelas Bahasa online, gunakan juga aplikasi duolingo di hp. Ketika waktu luang anda bisa iseng-iseng berlatih di aplikasi tersebut yang lebih fleksible untuk waktu terbatas.
  6. Memang sangat menggoda kelas-kelas yang banyak kita minati. Tapi selesaikanlah kelas satu persatu agar lebih fokus.
Advertisements