Berkah Merantau? PRICELESS!

Pergilah (merantaulah) dengan penuh keyakinan, niscaya akan engkau temui lima kegunaan, yaitu Ilmu Pengetahuan, Adab, pendapatan, menghilangkan kesedihan, mengagungkan jiwa, dan persahabatan.” – Imam Syafi’i.

Merantau sebenarnya bukan hal baru buat saya, dari kecil terbiasa berpindah kota karena tuntutan pekerjaan orang tua. Walau masih seputaran Jawa Barat, setidaknya saya pernah tinggal beberapa tahun di Bogor, Sukabumi, dan Bandung. Kemudian selepas kuliah, merantaulah ke Jakarta mencicipi pahit manisnya kerja di Ibukota.

Tradisi merantau sepertinya masih akan berlangsung dalam beberapa tahun kedepan, maklum ternyata saya dapet suami yang kerja di BUMN juga dan suka mutasi sana sini. Walau sempat jadi weekend wife karena suami ditempatin di Indramayu,  akhirnya di 2013 ikut juga ke Manado. Saat itu berasa “dilempar” ke tempat yang jauh, tapi ternyata belum apa-apa dibanding merantau kali ini yang terbang sampai ke negeri tangerine (yes, it’s orange).  Lalu tahun depan dimana? Hmm.. rasanya hanya Allah dan pejabat kantor suami yang tahu.

Kalau melihat ke belakang, ternyata banyak manfaat yang saya dapat ketika merantau. Salah satunya, jadi tau berbagai sisi dan cara hidup orang yang berbeda-beda sekaligus berlatih cara menempatkan diri waktu berinteraksi dengan orang lain yang lintas budaya, bahasa, dan kultur. Walau gitu, ternyata di negeri ini saya masih aja ga sadar membuat praduga ke orang lain berdasarkan stereotype latar belakang mereka. Ehm.. satu tugas lagi nih yang masih terus dilatih.

The Ups and Downs

Sempat dua bulan off nulis blog dalam rangka pencarian jati diri sebagai mamah rantau, saya juga tengah menyesuaikan diri sama jadwal dan pola hidup baru. Menariknya dalam rentang itu, I had a mother melt down moment, the lowest point in my life. If I could summarize it to three words, it will be; isolated, depression, bored. I think most mom will (or already) thru this ugliest moment of motherhood. But thanks to that experience, now I have stronger bond and empathy to all moms, especially to my mom. Hail to all moms out there! #ifeelyou

And yes life is good, Alhamdulillah di Enschede banyak kawan baik hati yang ga segan berbagi rahasia zukzes merantau mereka. Ternyata memang berguru ilmu merantau itu mesti berjamaah, saling menguatkan dan berbagi pelajaran hidup di negeri orang yah. Women empower others, ga perlu waktu lama sampai semangat berujung aksi pun datang. Agenda, pola pikir, cara hidup memang perlu dirombak ulang supaya berakhir dengan hati tenang, otak ngepul, dan perut kenyang (^_^).

It comes with price

Ada harga dalam setiap pilihan. Merantau itu menuntut saya untuk semakin mandiri dalam setiap hal #the power of kepepet, belum lagi masalah kedekatan dengan orangtua, kemudahan di tempat yang akrab dengan kita, dan kemampuan mengembangkan diri dalam aktivitas yang udah kita kenal. Apalagi ketika merantau ke negara mayoritas non muslim, mutlak jadi idealis tapi tetap fleksible sesuai aturan musafir yang sangat meringankan. Solat di kendaraan publik jadi favorit kami dikala bepergian, rasanya di setiap kota juga kami lebih memilih resto turki daripada resto umum (untungnya memang kami pencinta doner, hore!). Kalaupun terpaksa, ya pilih ikan dong, ga sampe jadi vegetarian lah hehe.

Tapi melihat kondisi saya rasanya bukan apa-apa dibanding perjuangan teman-teman lain disini. Apalagi ibu-ibu muda yang berani melepas karir dan kenyamanan hidupnya asalkan keluarga kumpul. Malah, ada juga yang harus ninggalin anak-anaknya yang masih unyu sampai beberapa tahun kedepan #nangisbombay.

Menghitung berkah merantau

Beda orang beda kisah, bahkan dari sekian banyak pindahan yang saya lakonin ga semua kisahnya bernada sama. Tapi ada satu pola yang membuat saya akhirnya mengambil kesimpulan bahwa dibalik semua perjuangan dan pengobanan itu ada berkah merantau yang berharga, membuat hidup dan pikiran kita semakin kaya.

#1 Makin Mandiri

Jelas harus mandiri, karena di tempat yang baru semuanya harus usaha sendiri sebelum kenalan sama orang-orang lokal. Lebih parah lagi kalau di Belanda, bahkan mesti bisa servis sepeda sendiri, pasang rel tirai jendela sendiri, semua barang berat-berat juga angkut sendiri, soalnya disini nilai tenaga manusia muahaal jadi mending kerjain sendiri. Baru deh ketauan ternyata selama di Indonesia tuh manja juga yah, motong celana aja minta tolong ke orang. Pantesan kenapa banyak banget tips DIY (Do It Yourself) yang bertebaran di situs asing, ya karena apa-apa mahal kalau bayar orang.

#2 Nemu sahabat baru

Semoga bukan cuma jadi sahabat semusim. Teman dan komunitas itu punya andil besar buat keberlangsungan kita di tanah baru, saling berbagi ilmu dan semangat jadi hidup di negeri orangpun tetep berasa Indonesia. Sayangnya (atau untungnya yah?) saking nyamannya ketemu sama temen-temen yang baik hati, jadi udah puas, merasa ga perlu lagi mingled sama orang lokal. Hmm, walau tinggal di Belanda tapi komunikasi utamanya tetep pake bahasa Indonesia. Hehehe rugi yah, makanya sekarang lagi cari temen baru yang orang Belanda aselik deh.

#3 Banyak belajar hal baru

Ini dia, highlight achievement 2015 saya adalah makin jago masak! Horeee, dari yang ga bisa bikin kacang ijo sekarang bisa bikin rendang, gulai iga kambing, risoles mayo, ungkep-ungkepan, aaah terlalu pamer kalau saya tulis semua disini. Dan semua itu berkat kebaikan temen-teman baru yang berbaik hati berbagi resep mudahnya.

Saya juga lagi belajar bahasa Belanda, walau dengan progress yang ga signifikan, tapi jadi prioritas saya di 2016 ini. Selain itu? Saya belajar baca peta, belajar kesasar, belajar bikin trip yang nyaman buat bayi, dan belajar lainnya yang ga akan berenti sampai mati. Di Indonesia juga bisa sih belajar kaya gitu, tapi pas merantau tuh ada unsur #thepowerofkepepet jadi lebih greget belajarnya.

#4 Membuka hati dan pikiran

Utamanya yang saya maksud disini adalah; menghilangkan praduga buruk tentang orang lain berdasarkan latar belakang atau “kata orang”. Saya merasa cukup jadi manusia yang berpikiran positif, tapi ternyata ketika disini kadang saya ga sadar udah stereotyping orang, dan “kata orang” masih mempengaruhi saya melihat image seseorang. Sekarang saya lebih bisa jaga diri dan netral ketika berinteraksi sama orang baru (apapun praduga orang lain dibelakangnya).

#5 Mendalami Agama Lebih Baik

Sejak sebelum berangkat kami penasaran dengan teori antithesis yang diceritain sama beberapa orang perantau sebelumnya, tentang semakin kuatnya kita memegang agama ketika islam jadi minoritas. Di bulan ke-lima ini alhamdulillah keinginan untuk belajar lebih dalam jadi makin besar, walau disini susah buat cari tausiah dan diskusi langsung, kan ada teknologi yang memungkinkan kita cari informasi seru (tapi tetap perlu dibahas dengan orang yang lebih kompeten yah). I did some research based on personal issues, misalnya tentang ulang tahun, bulu mata palsu, kehalalan makanan, sejarah islam. Sebenernya, saya sering denger informasi itu sebelumnya sih, tapi rasanya beda antara diajarin, dibanding kalau cari tahu dan mengambil makna berdasarkan informasi yang ada (dan kredibel). Asalkan, ga ngeyel yah kalau udah dapet pencerahan.

Masih sekitar sembilan bulan lagi perjalanan merantau keluarga kecil saya disini, masih banyak tempat yang pengen dikunjungin dan aktivitas yang dilakuin, semoga setiap harinya ga cuma lewat seperti pasir di tangan, tapi ada pelajaran baik setiap harinya. Sekalian, mumpung jadi musafir juga nih, berdoa sebanyak-banyaknya ^_^ Jangan takut merantau!

“Tiga doa yg sangat mustajab; doa orang yg puasa, doa orang yg dizalimi dan doa orang yg musafir.” (HR Bukhari, Ahmad dan Tirmidzi.)

 

After all, you’re only a traveler in this short life. The more you travel, the richer and wiser you are.

Advertisements