Travel Tips: Long Flight With 9 Months Old Baby

Agustus 2014. Mendekati keberangkatan suami ke Belanda, saya semakin cemas menanti kabar dari kedutaan tentang status visa saya dan anak. Makin hari, saya makin pasrah dan menyiapkan diri untuk skenario terburuk, yaitu pergi berdua dengan sang bayi tersayang menyusul suami.

Yang bikin tegang adalah membayangkan bagaimana bisa menjadikan perjalanan ini nyaman bagi bayi saya? Terbayang lebih dari 17 jam, bayi sembilan bulan yang mulai senang menjelajah, harus diam di satu tempat terbatas, dengan suasana baru, banyak orang baru, belum lagi turbulensi dan tekanan udara yang berbeda. Setiap hari saya membekali diri dan menguatkan mental dengan banyak cari informasi di internet, belajar dari pengalaman para super mom.

Ternyata, banyak loh yang survive bahkan dengan membawa lebih dari satu anak. Awalnya mereka juga merasakan hal yang sama, ketakutan kalau bayi ga nyaman, dan akhirnya membuat penumpang lain juga jadi ga nyaman. Gimana caranya supaya sukses? Hal yang pertama harus dilakukan kata para super mom adalah change your mindset, traveling with your baby will be challenging but it should be fun. Oh gitu ya, ok setiap hari mantra saya adalah “traveling with baby is fun!”, dan tentunya berburu berbagai baby gear yang bisa bikin perjalanan lebih nyaman.

Nah, balik lagi ke penantian menunggu kabar visa, satu minggu sebelum suami berangkat, saya ditelepon oleh kedutaan yang mengabarkan kalau visa granted! Alhamdulillah, beneran sujud syukur karena proses visa luar biasanya berarti cuma memakan waktu 2,5 minggu (katanya ada yang bisa sampai tujuh minggu). Semuanya berkat doa keluarga, khususnya orangtua yang semakin cemas ngelepas saya terbang berdua aja sama cucu kesayangannya.

Tugas menantang berikutnya adalah mencari tiket untuk saya dan bayi. Mungkin karena masih masuk peak season, tiket murah atau bahkan yang berharga normal pun sold out di berbagai airlines. Alhasil terpaksa lah kami membeli tiket Garuda Indonesia dengan harga hampir 23 juta! Jangan sedih, untuk beberapa penerbangan di hari berikutnya bahkan mencapai 32 juta loh atau ga ada tiket sama sekali. Dengan jeritan hati dan ratapan dompet akhirnya kami beli tiket itu sekaligus tiket anak. Karena dia masih berumur dibawah dua tahun, jadi hanya dikenakan 10% dari harga tiket suami (dipilih dari tiket suami yang jauh lebih murah).

Kami melakukan pembelian tiket anak langsung di kantor Garuda Indonesia supaya bisa langsung request bassinet. Selanjutnya biar lebih aman, kami telepon ke call center supaya bisa duduk sebelahan. Ternyata kata petugas call center-nya ga bisa, karena tiket saya di upgrade jadi ke kelas bisnis. “Uhuk! Tunggu, kayanya saya kurang dengar jelas, gimana mas?” dan dijawab “Ibu sudah kami upgrade ke kelas bisnis jadi tidak bisa bersebelahan dengan suami yang di ekonomi, atau mau kami pindahkan kembali ke kelas ekonomi?”. Tentu tidak (^_^)

19 Agustus 2014, diantar oleh keluarga, kamipun terbang ke Belanda. Alhamdulillah esoknya kami tiba dengan selamat tanpa kendala yang berarti, berkat doa dan persiapan yang baik. Ada beberapa “catatan” yang kami dapatkan dalam perjalanan tersebut, bisa jadi bekal kami untuk perjalanan dengan bayi berikutnya. Ini lah catatan kami :

TIPS #1: Pilih Waktu Terbang Sesuai Jam Tidur Anak

Tenang, anak akan lebih sedikit terkena jet lag dibandingkan dengan kita yang dewasa, jadi ga masalah kalau sepanjang perjalanan dia tidur terus. Jadi pilihlah waktu terbang ketika anak sedang tidur, misalnya kami memilih flight Garuda Indonesia, CGK – AMS pukul 20.45.

Jika dalam penerbangan harus transit dulu, pilih yang setidaknya memberikan waktu satu jam. Buat saya 45 menit itu sangat mepet sekali –hampir pasti ditinggal pesawat- karena bawa bayi berikut barang-barangnya membutuhkan lebih banyak waktu apalagi kalau gate-nya berjauhan.

TIPS #2: Utamakan Kenyamanan. Pilih maskapai dan jenis kelas paling nyaman yang anda mampu.

Anda dan bayi akan terbang selama lebih dari 17 jam! Jadi pastikan maskapai Anda memberikan kenyamanan lebih. Kami menggunakan Garuda Indonesia, karena berdasarkan review teman-teman, maskapai inilah yang paling nyaman selain KLM atau Singapore Airlines dengan harga yang lebih terjangkau. Bahkan kalau masih memungkinkan, sangat direkomendasikan untuk memilih Business Class terutama untuk ibu yang terbang berdua bersama bayi.

Etihad sempat menjadi pilihan saya, karena mereka punya fasilitas “Nanny On Board” – seorang pramugari yang tugasnya khusus membantu para orangtua untuk membuat anak-anaknya lebih nyaman. Tapi kalau untuk fasilitas, makanan, dan kenyamanan kursi katanya lebih baik Garuda Indonesia.

Jika saya tahu akan di-upgrade menjadi business class, tentu akan saya bayar tiket anak berdasarkan 10% dari harga tiket saya sehingga sejak awal Najwa bersama saya. Awalnya Najwa duduk bersama papahnya, paling depan di window seat. Nah, saat saya membantu mendudukan dia di pangkuan papahnya, dua penumpang di sebelah belum apa-apa udah sinis duluan ngeliat bayi. Yes, mean people do exist on earth!

Saat boarding di pesawat, bayi akan dipasangkan seat belt juga dan duduk diatas pangkuan kita. Mungkin karena ga sama mamahnya, Naj jadi rewel dan akhirnya saya minta izin untuk dibawa ke tempat duduk saya. Pramugari pun memberikan izin apalagi karena penumpang di sebelah suami saya sudah mulai protes, haduh (>_<).

Tapi semua hal pasti ada hikmahnya; kepaksa beli tiket super mahal akhirnya dapet kelas bisnis, diprotes penumpang sebelah jadilah sejak awal Naj bareng mamahnya di kelas bisnis. Jika Anda mampu mengeluarkan kocek lebih untuk kelas bisnis, sangat disarankan menggunakan kelas ini apalagi bawa anak dibawah dua tahun. Jangan khawatir atau takut akan mengganggu penumpang lain, karena dalam penerbangan internasional, kelas bisnis lebih banyak kursi yang kosongnya. Bahkan setelah kami transit di Changi Airport, Naj mendapatkan satu kursi bisnis buat dia sendiri bersebelahan dengan saya (^_^). Hasilnya, selama 17 jam perjalanan, Naj hanya bangun 3 jam untuk main dan makan. Alhamdulillah.

TIPS #3: Pesan Bassinet Ketika Membeli Tiket Anak

Bassinet tersedia untuk penerbangan internasional untuk anak dibawah 2 tahun dengan berat max 15kg (tergantung kebijakan maskapai). Dengan bassinet, bayi lebih nyaman karena punya tempat sendiri, kita pun jadi terbantu karena ga harus gendong bayi sepanjang perjalanan. Dalam kasus kami, bassinet baru akan diberikan setelah transit dari Singapura, tapi saat take off dan landing bayi tetap harus duduk di pangkuan kita dengan seat belt terpasang.

Kalau ga dapat bassinet, ketika check in Anda bisa minta diberikan kursi disebelah tempat duduk yang kosong agar anak lebih leluasa bergerak.

TIPS #4: Siapkan Perlengkapan Bayi

Selain barang wajib seperti popok dan baju, ada beberapa perlengkapan lain yang bisa membantu perjalanan kita dan bayi jadi lebih nyaman. Siapkan semuanya dari jauh hari biar ga ada yang ketinggalan. Jadi, apa aja yang perlu dibawa? Coba intip checklist saya disini.

Baby Ear Muff berguna sebagai Noise Reduction dan menjaga tekanan di telinga. Pada prakteknya saya hanya menggunakannya saat take off, karena saat landing Najwa ga mau dipakein ataupun nyusu. Saya sempat cemas karena telinga saya aja terganggu, gimana bayi, tapi ternyata dia baik-baik aja. Oh ya, baby ear muff nya bukan yang bulu-bulu buat penghangat yah, tapi sejenis EMS Baby Ear Muff yang dulu saya beli disini.

Jika Anda ingin membawa stroller, lebih baik pilih stroller yang bisa disimpan di cabin karena Anda akan membutuhkannya ketika transit atau saat menunggu di bandara awal. Saya sengaja memilih stroller Pock It karena bisa mudah dilipet menjadi seukuran koper kecil. Baby Carrier juga wajib Anda bawa, apalagi ketika pemeriksaan Anda akan membutuhkan kedua tangan yang bebas untuk mengangkat barang-barang. Review stroller Pock It bisa Anda lihat disini.

Selain barang-barang, Anda juga bisa mengunduh beberapa video baru sebagai jurus terakhir ketika anak rewel. Gunakan jurus ini ketika udah kepepet banget yah mom. Untuk mencegah anak rewel, Anda bisa membawa beberapa mainan yang berukuran kecil atau buku, jika kehabisan mainan, Anda bisa ber-improvisasi menjadikan barang-barang di sekitar sebagai mainan. Bahkan sebuah botol Aqua pun bisa bikin betah bayi selama beberapa menit.

Oh ya, jangan lupa bawa cemilan dan makanan bayi. Walaupun harusnya disediakan maskapai tapi saat penerbangan saya mereka lupa menyiapkan (>_<)

TIPS #5: Organize Your Bags

Bawa sekian banyak barang, sambil dorong-dorong stroller, dan gendong bayi. Kebayangkan rempongnya? Take your time, let them wait for a while. Kalau heboh malah bikin kita jadi ceroboh, dan menyesal kemudian. Salah satu cara menangkalnya dengan mengatur isi tas sebaik mungkin, jadi Anda bisa dengan mudah mengambil dan mengembalikan barang ketika membutuhkan.

Saya membagi barang bayi dan saya ke dalam dua tas, satu tas khusus bawa perlengkapan bayi dan satu tas lagi untuk saya dan suami (plus beberapa barang bayi). Kami juga membawa travel pouch untuk tempat paspor, ID Card, Tiket, uang biar ga usah ngubek-ngubek tas dulu. Pilih travel pouch yang pakai tali jadi bisa Anda gantungkan di dada, ga perlu keluar masuk tas. Untuk pengaturan barang dalam tas, bisa lihat lagi checklist saya disini yah.

Itu beberapa catatan dari pengalaman pertama saya terbang bersama bayi dalam penerbangan jauh. Semoga perjalanan Anda bersama bayi bisa lebih menyenangkan (^_^).

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s