Mengejar Gelar Anak Susu

Inilah alasan pertama saya tetap ngotot melakukan program Induced Lactation. Rela jungkir balik guling-guling koprol demi bisa memproduksi ASI agar bayi tersayang bisa jadi Anak Susu, muhrim bagi suami dan anak laki-laki saya kelak.

Bisa menyusui juga artinya memberikan nutrisi terbaik dan meningkatkan bonding dengan bayi. Namun bagi saya pribadi, dalam perjalanan Induced Lactation, kedua alasan terakhir ini beberapa kali ingin saya ikhlaskan, dengan alasan bayi pun akan tetap tumbuh sehat dan secara naluriah dekat dengan ibunya walau tanpa ASI. Thank God I didn’t quit, karena menyusui langsung selama beberapa bulan memberikan perbedaan yang berarti buat keterikatan kami. Saya pun lebih pede dan mantap bilang aku adalah ibunya, sepenuhnya.

Selama lebih dari dua bulan saya mengusui bayi tersayang, tapi apakah cukup supaya dia jadi anak susu saya? Setelah membekali diri dan berdiskusi dengan anggota keluarga yang paham secara agama terkait hukum anak susu, ada beberapa catatan penting yang saya jadikan sebagai dasar pertimbangan.

Berdasarkan Al-Quran dan Hadis Rasullah SAW, seperti yang bisa dibaca dari MUI.or.id disini dan Persis (Persatuan Islam) disini . Kedua sumber tersebut merupakan fatwa tentang Bank ASI, yang juga erat kaitannya dengan anak susu dan hukumnya menurut islam. Dimana pemberian ASI menyebabkan terjadinya mahram (haramnya terjadi pernikahan) akibat radla’ (persusuan), dengan ketentuan :

1. Diberikan saat bayi dibawah 2 tahun

“Tidak dianggap sebagai persusuan kecuali persusuan yang dilakukan pada masa pembentukan tulang dan pertumbuhan daging.” (HR Abu Daud, Kitab Nikah, Bab Radhaa’atu Al-Kabiir).

“Sesungguhnya persusuan (yang menimbulkan hukum radla’) hanyalah di masa anak membutuhkan ASI sebagai makanan pokok.” (HR Bukhari, Kitab Al-Syahaadah Bab Al-Syahaadah ala Al-Ansaab dan Kitab Al-Nikaah Bab Man Qolaa La Radhaa’a Ba’da Hawlaini; Muslim, Kitab Al-Radhaa’ Bab Innamaa Al-Radhaa’ min Al-Majaa’ah).

“Tidak berlaku hukum persusuan setelah anak mencapai usia dua tahun.” (HR Al-Daaruquthni, Kitab Al-Radhaa’ah).

2. Diberikan minimal dalam lima kali susuan, baik secara langsung maupun tidak langsung.

Dari Aisyah ra ia berkata: Dahulu, dalam apa yang diturunkan dari al-Quran (mengatur bahwa) sebanyak sepuluh kali susuan yang diketahui yang menyebabkan keharaman, kemudian dinasakh (dihapus dan diganti) dengan lima kali susuan yang diketahui, kemudian Nabi saw wafat dan itulah yang terbaca di dalam al-Quran” (HR. Muslim)

“Hal seperti ini –memasukkan ASI tanpa proses langsung– menyebabkan ASI masuk ke dalam perut bayi, tidak berbeda dengan proses pemberian ASI secara langsung dalam menumbuhkembangkan daging dan tulang, sehingga hukum keduanya –pemberian ASI secara langsung atau tidak langsung– adalah sama yaitu, berlakunya hukum mahram (karena persusuan).” Pendapat Ibnu Qudamah dalam Kitab Al-Mughni (11/313)

Seperti yang pernah diulas disini, saya menggunakan bantuan lactation aid dan menyusui bayi secara langsung, artinya ASI bercampur dengan susu formula dan ga bisa saya itung secara pasti berapa banyak yang udah terminum. Namun saya dan suami yakin, insya Allah dengan produksi seadanya (yang terlihat setiap ngetes payudara sebelum menyusui), enam atau delapan kali dalam sehari, selama lebih dari dua bulan udah cukup untuk menyusui dengan susu full ASI dalam hitungan lima kali susuan. Wallahu a’lam.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s